Mengejar Ingin

saat ini, aku masih belum bisa memantapkan diri untuk mengambil langkah. Belum ada kepastian tuk bicara soal rasa kepada rusnita. Memang ada yang lain dengan rusnita saat ini. yang biasanya agak kesal ketika ada sindiran mengenaiku dan nya, kini dia menyikapinya dengan dingin.

apakah pertanda rusnita care denganku? aku tak tahu. sejauh ini aku tak melakukan pendekatan yang berarti sehingga aku merasa itu bukan hasil dari ‘usaha’ku, usaha dari pendekatan. atau itu sikap yang ingin dia tujukan dengan maksud bahwa semua baik-baik saja. entah. terlalu lelah jika harus bermain tebak-tebakan.

tadi malam, ketemu di kampus. dia hendak nonton pertunjukan musik dengan teman-teman yang lain. sempat ada waktu aku duduk berdua dengannya saja, hanya mengobrol ringan tak ada obrolan serius mengarah membahas hubungan. waktu yang belum tepat.

tak ada yang bisa aku katakan saat rusnita berkumpul dengan teman-teman juga denganku. masih dalam zona nyaman hanya untuk memandang. PLAK!! ‘jika hanya dizona nyaman ini kapan aku bisa mendekatinya?’

Sedih, merasa bodoh ketika muncul pikiran tuk mengakhiri apa yang kuperjuangkan akan rasa? berjuang? apa yang sudah aku lakukan? belum ada fighting yang aku keluarkan tuk melawan sikap diam ini.

Nit, jika kau benar-benar menanti. sabar sedikit ya, si bodohmu ini masih menikmati perannya sebagai pengecut. Sebenarnya sibodoh ini tak mau terlarut dalam kebingungannya, dia hanya butuh keberanian. tunggu.

sebaliknya, jika tak ada niatan sedikitpun tuk menunggu. kan ku kejar inginku, semampuku, sekuatku. tunggu aku.

Posted in Catatan | Leave a comment

Nit, Aku Kangen

Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri. perasaanku pada Rusnita. yang hingga saat ini belum menemukan titik kejelasan. Ketidak jelasan yang wajar jika tak kuperoleh, karena hingga saat ini ku masih diam, tak berbuat apa-apa untuk menentukan kejelasan. Kejelasan yang harusnya kudapatkan bukan kejelasan yang ku tunggu. Karena sampai kapanpun jawaban itu tak kan ada jika aku hanya menunggu.

Aku kini merasa tiada berteman dengan siapapun, bahkan dengan rusnita sekalipun. Aku masih kaku dihadapannnya, aku tak bisa terus berpura-pura dihadapannya, mencoba untuk tak peduli atau tak ada apa-apa terasa berat sekali. Parahnya aku memilih pergi ketika ada Rusnita.

Semakin memperjelas kebodohanku. Ah peduli setan, aku terlihat bodoh. Yang pasti sebetulnya aku tidaklah bodoh dan tak mau dibilang bodoh. Rasanya tak cukup jika ku mengadukan gundahku kepada teman terdekatku, aku merasa mereka pasti bosan mendengar keluh kesahku yang dari ke hari tak kunjung menemukan kemajuan. Tak hanya kalian yang bosan, aku juga. Aku pun lelah sangat, hingga linangan yang keluar merupakan isyarat lelah yang nyata. Belum cukup kah?

Sempat terlintas dibenak, ku kan meninggalkan organisasi dimana aku saat ini berpijak. Tapi tak mungkin, penyebabnya bukan karena gengsi atau apa. Aku masih waras, aku tak mau meninggalkan suatu organisasi hanya karena sesuatu yang berkaitan dengan ‘rasa’. Konyol. Terbukti aku tidak bodoh kan?

Tak mudah jika aku harus melupakan begitu saja, mencari pelarian untuk melupakan pun bukan jaminan, buktinya workshop yang diadakan dua pekan lagi bukannya mampu melupakan rusnita sejenak, malah menambah beban. Konsentrasi yang terbagi dan terpecah membuatku bener-bener merasa hancur.

Aku tak terbiasa dengan sistem saat ini, aku ingin kerja dengan sistemku. Komunikasi lewat mobile merupakan kegemaranku, sesuatunya dapat dihandle tanpa harus bertatap muka. dalam praktiknya koordinasi tanpa bertatapmuka masih sulit menemukan kesinambungan. Apapun yang terjadi, workshop yang diadakan akhir bulan mei adalah tanggung jawabku.

Nit, aku kangen.

14.05’10 09.48 PM

Posted in Catatan Hari | Tagged , , | Leave a comment

Happy Birthday, Sita.

Kemarin tanggal 28 April, Sita tepat berulang tahun yang ke 20. Happy Birthday ya Sit :) Semoga segala keinginan dan cita-cita yang belum tercapai dapat kamu raih. Dan semoga di tahun ini lebih baik dari sebelumnya. Amin.

Ada sebuah kado kecil yang aku berikan kepada Sita. Meski tak seberapa semoga dapat berarti. Kado itu sudah lama aku persiapkan untuk diberikan kepada Sita, dan baru kali ini kesampain untuk diberikan. Ya, di hari ultahnya kemarin.

Continue reading

Posted in Catatan Hari | Leave a comment

Amazing (to) Rest

Jam tiga dinihari kuterbangun, setelah sempat tertidur hampir dua jam. Jam satu aku baru pulang dari CSS bareng teman-teman lainnya.

Mau tidur lagi susah. Teringat majalah Cyber Media sudah naik cetak dan dalam tiga hari harus sudah clear semuanya karena sabtu besok disertakan sebagai fasilitas Workshop Blender – 3D Software. Cover belum dicetak, daripada nggak ada ‘kerjaan’ mending aku cicil, pikirku. Sebenarnya ada yang lebih urgent dari Majalah Cyber Media, soal skripsiku. Bukan menyampingkan tugas redaksi, tapi skripsi tanggung jawab pribadiku sedangkan Cyber Media adalah tanggung jawab bersama yang siapa saja bisa ikut serta. Lha skripsi, bukan tanggung jawab temen-temen kan. Hehe.. itu maksudku dengan tidak mengesampingkan CyMed.

Continue reading

Posted in Catatan Hari | Leave a comment

Bukan karena Terpaksa

Hari ini, 1 April 2010. Aku kembali bekerja setelah beberapa bulan lalu sempat memutuskan untuk berhenti bekerja. Ingin fokus dengan tugas akhir, itu alasanku saat itu. Sebetulnya itu bukan alasan sebenarnya, ada alasan yang mendasar diantaranya: gaji yang kurang memungkinkan, terlebih berangkat dan pulang kerja aku harus naik angkot. Gaji habis untuk ongkos transport. *berat diongkos* :D

Posisiku bekerja saat ini bukanlah posisi yang istimewa, biasa saja malah sebenarnya kurang pas jika dilihat dengan latar belakang pendidikan. Aku coba positif thingking aja, kurang pas atau tidak sesuai itu hanya nilai yang siapapun dapat menilai dan masing-masing berhak memberikan ‘skor’ yang bervariasi.

Posisiku bekerja saat ini sama seperti pekerjaan yang aku tinggal dulu. Malah, aku sempat berpikir ‘kapok’ bekerja dengan posisi yang sama. Terus apa alasan yang membuat aku mau bekerja dengan posisi yang sama? Jarak yang dekat dengan tempat kos itu salah satunya, sehingga aku nggak memerlukan biaya untuk angkot, tinggal jalan kaki atau ngesot saja :D

Kebutuhan yang harus aku cukupi juga alasan aku ‘terpaksa’ kembali bekerja. Bukan keterpaksaan yang terpaksa, tapi sebuah harapan dan jalan yang mau tak mau harus aku jalani.

Posted in Catatan Hari | Leave a comment

Time to Sleep

March 23, 2010
Jam di laptop menunjukkan pukul 06.09 saat aku mulai menuliskan tulisan ini. Hingga pagi ini aku belum tidur, kebiasaanku susah tidur saat malam. Baru tidur saat pagi, dan bangun ketika hari sudah siang malah kadang bisa sore baru bangun kalo aku merasa terlalu cape’. Siklus tidurku benar-benar kacau.

Untung tadi sempat nonton film cellular untuk mengisi waktu ‘kosong’. Film sudah lama diproduksi, tapi aku baru punya kesempatan untuk nonton. *payah* hahaha…

Sambil mengetik, aku memutar album I Love Acoustic milik Sabrina juga My Happy Lifenya Tompi. Pengantarku tidur pagiku yang nikmat, pikirku. Siang nanti ada rapat redaksi, semoga aku tak terlambat bangun. Kalo terlambat, bisa kacau! Banyak pe-er (pekerjaan redaksi) yang harus dikerjakan segera.
OK, now time to sleep.

*pasang alarm*

Posted in Catatan Hari | Tagged , , | Leave a comment

Salah Pemred (lagi)

: Nanti ke Johar ya, nyari kertas buat cover.

:: Aku mau nyelesaiin perlengkapan dulu.

: Ini sudah mau Maret, mosok Februari terbit Maret?

(dengan sedikit kesal aku pun ngeloyor pergi)

Lagi-lagi ini salah pemred. Aku yang kurang tegas terhadap mereka. Mungkin jugamereka yang meremehkan aku. Mungkin aku tak dianggap (sebagian) mereka. Tak apa. Itu lebih baik daripada aku menganggap mereka tak ada. Karena itu sama saja ‘memusnahkan‘nya.

Kulihat layar handphoneku untuk sekedar memastikan ini tanggal berapa. 19 Februari. Manis sekali. Sungguh manis. Sungguh. Sama halnya sungguh payahnya cara kerja seperti ini.

Mengapa seperti ini? tak ada sedikit waktukah untuk sekedar perhatian. Waktu bercengkerama yang kurang, atau.. ah banyak atau-atau yang lain.

Kita itu bukan aku. Kita itu bukan kamu. Kita itu bukan kalian, tapi kita itu ya kita.

19.02’10

Posted in Catatan Hari | Tagged , | Leave a comment

Salah Pemred?

Kini sudah memasuki pertengahan bulan, namun majalah cymed belum naik cetak juga. AH, aku pusing. Entah dimana letak kesalahan yang harus dibenahi. Pikiran benar-benar terkuras namun hasil tidak ada. Percuma. Ya, (kini) terasa sia-sia. Benar apa yang mereka bilang, tidak hanya aku yang bekerja pada majalah ini. Ada author, editor, bendahara, dan bagian produksi yang siap membantu tugasku. Aku adalah pemred yang mengkoordinasikan tugas2 agar berjalan dengan baik.

Rapat penentuan tema sudah aku adakan, time table untuk menjadi acuan kinerja redaksi sudah tertempel. Edisi februari yang belum naik cetak menjadi tanggung jawabku. Seakan-akan telunjuk tangan semua mengarah kemataku, sambil berlomba-lomba untuk mencolek bola mata ini.

Masalah ukuran kertas isi yang tak bisa dipadukan dengan cover yang tersedia dipasar. Tuntutan pasar yang menginginkan majalah setidaknya cover yang berwarna. Semua dengan dana terbatas. Kepedulian terbatas, kinerja terkena imbas.

Toh, sebenarnya aku bisa dengan ‘sesuka hati’ menentukan majalah ini mau aku apakan. Masalahnya ini majalah bukan majalahku. Ini mengatasnamakan organisasi. Percuma jika semua menganggukan kepala jika hasil yang tak sesuai seolah wajah ini ditikam.

Kenapa kepala lebih merasakan menanggung beban ketimbang kaki yang menopang badan.

Posted in Catatan Hari | Tagged , | Leave a comment

Hujan Ini, Rintik Itu

Seperti biasa, setiap Rabu ada pelatihan rutin bagi para staff. Pelatihan dimulai sekitar jam empat sore. Perasaanku nggak nyaman, bukan feeling tentang firasat tapi lebih pada kondisi fisik yang nggak nyaman.

Akhirnya aku menemani Aris Penulis Sableng untuk cari makan, dia makan aku cuma minum. Aku sudah kenyang lagi pula sedang malas. Aku pesan coffeemix panas, awalnya pesan dingin tapi setelah kupikir sedang tak enak badan kuganti pesananku. Sebutan Penulis Sableng adalah panggilanku untuk Aris karena kami terbiasa bercanda mengejek dan ‘berantem’ di dunia maya. Dan hingga saat ini dia sudah menulis empat buku. Sukses sob.

Sepulang dari warteg kembali ke lab. Hanya diluar, tidak masuk ruangan. Kulihat Rusnita, masih dengan senyum dan ceria khasnya. Aku hanya bisa memandangnya tanpa bisa menikmati. Aku tak bisa benar-benar menikmati, karena ada sakit saat kucoba untuk menikmatinya. Nit, senyummu itu ingatkanku saat aku masih bisa menikmati senyummu itu, tapi kini? Ah luka, tapi biarkan aku menikmati (kenangan) senyum.

Selepas magrib pelatihan selesai. Kembali ke IC, ngobrol bareng beberapa teman dipelataran. Rupanya gerimis, akhirnya berteduh diselasar. Terdengar musik mellow buatku tersiksa, apalagi Rusnita berasa tak jauh dari tempat aku duduk. Senyum itu buatku sakit, tapi ia tak kan menyadari jika kuterluka karenanya.

Kuputuskan kembali ke kos. Rintik tadi berubah menjadi hujan, derasnya iringi langkahku menuju kos. Ingin rasanya berteriak sekuat tenaga tapi tak mungkin. Aku masih ingin terlihat waras. Kuteringat akan pantai, benamkan diri pada deburan ombak. Rintik hujan ini benar-benar mengingatkanku akan deburan itu. kubenamkan diri. Mengubur sakit. Nit, aku ingin kita bisa bercengkrama berdua lagi.

Posted in Catatan Hari | Tagged | Leave a comment

Sita…

Kuteriakkan namamu,.
Sekuat tenaga ku teriak…
SITAAAAA……
SITAAAAA……
SITAAAAA……
Aku Sukaaaa……
Beri aku waktu….

itu janjiku pada laut sore itu

15.11.09

Posted in Catatan | Tagged | Leave a comment