saat ini, aku masih belum bisa memantapkan diri untuk mengambil langkah. Belum ada kepastian tuk bicara soal rasa kepada rusnita. Memang ada yang lain dengan rusnita saat ini. yang biasanya agak kesal ketika ada sindiran mengenaiku dan nya, kini dia menyikapinya dengan dingin.
apakah pertanda rusnita care denganku? aku tak tahu. sejauh ini aku tak melakukan pendekatan yang berarti sehingga aku merasa itu bukan hasil dari ‘usaha’ku, usaha dari pendekatan. atau itu sikap yang ingin dia tujukan dengan maksud bahwa semua baik-baik saja. entah. terlalu lelah jika harus bermain tebak-tebakan.
tadi malam, ketemu di kampus. dia hendak nonton pertunjukan musik dengan teman-teman yang lain. sempat ada waktu aku duduk berdua dengannya saja, hanya mengobrol ringan tak ada obrolan serius mengarah membahas hubungan. waktu yang belum tepat.
tak ada yang bisa aku katakan saat rusnita berkumpul dengan teman-teman juga denganku. masih dalam zona nyaman hanya untuk memandang. PLAK!! ‘jika hanya dizona nyaman ini kapan aku bisa mendekatinya?’
Sedih, merasa bodoh ketika muncul pikiran tuk mengakhiri apa yang kuperjuangkan akan rasa? berjuang? apa yang sudah aku lakukan? belum ada fighting yang aku keluarkan tuk melawan sikap diam ini.
Nit, jika kau benar-benar menanti. sabar sedikit ya, si bodohmu ini masih menikmati perannya sebagai pengecut. Sebenarnya sibodoh ini tak mau terlarut dalam kebingungannya, dia hanya butuh keberanian. tunggu.
sebaliknya, jika tak ada niatan sedikitpun tuk menunggu. kan ku kejar inginku, semampuku, sekuatku. tunggu aku.